Komodo, Merupakan salah satu hewan endemik di dunia dan terdapat hanya di Pulau komodo, Propinsi Nusa Tenggara Timur sebagai salah satu taman nasional yang dilestarikan di Indonesia. Hewan ini disebut juga dengan nama lain, Ora oleh penduduk asli. Sebagai kadal terbesar di dunia dengan berat 70 kg untuk yang dewasa dan panjang sekitar dua sampai 3 meter, hewan ini termasuk spesies biawak Varanidae dari marga Varanus, dan termasuk family dari dinosaurus. (Foto: Istimewa)

TABELO, LABUAN BAJO – Rencana investasi PT. ASDP Ferry yang hendak mengoperasikan kapal Ferry KMP Komodo berdaya muat massal mendapat reaksi keras dari berbagai kalangan di kabupaten Manggarai barat, FLORES-NTT.

Beberapa pihak beranggapan bahwa rencana investasi PT. ASDP Ferry yang hendak mengoperasikan kapal Ferry KMP Komodo berdaya muat massal tersebut berpotensi membunuh Komodo dan ekosistemnya secara perlahan bahkan bisa lebih cepat.

Hal ini disampaikan oleh pemerhati kebijakan publik yang juga seorang Advokat, Muhammad Achyar, yang bereaksi keras dan menyampaikan kritik pedas kepada pemerintah yang hendak meloloskan rencana investasi tersebut.

“Investasi tersebut berpotensi membunuh Komodo berikut ekositemnya secara perlahan bahkan bisa lebih cepat,” jelasnya pada wartawan dikantornya pada Kamis (11/10/2018).

Achyar berpendapat, dengan membiarkan PT. ASDP mengoperasikan Ferry berpenumpang massal, tak ubahnya menyamakan Taman Nasional Komodo sama dengan Kebun Binatang.

“Ya, apa bedanya dengan Kebun Binatang? Jika yang datang ke Komodo setiap hari tak dibatasi, sama saja pemerintah menyamakan TNK dengan Taman Safari,” jelasnya.

Menurutnya taman Safari pun kelasnya masih lebih baik karena untuk berkunjung kesana tarifnya lebih mahal dari kebun binatang pada umumnya.

“Saya khawatir malah TNK berpotensi menjadi seperti Kebun Binatang Ragunan dan kebun binatang lain yang sejenis, padahal TNK Komodo adalah salah satu warisan keajaiban dunia,” jelasnya.

Ia menjelaskan bahwa sebagai bangsa kita memiliki kebanggaan akan Komodo dan TNK sebagai satu kesatuan ekosistem dan merupakan habitat bagi satu-satunya binatang purba yang masih bertahan hingga saat ini.

“Maka sudah menjadi kewajiban kita sebagai bangsa untuk menjaga TNK tetap eksklusif dan terjaga ekosistem dengan segala potensi alam dan keistimewaan yang dimilikinya tetap lestari,” tuturnya.

Pengunjung yang hendak melihat Komodo, katanya lagi, memang harus membayar mahal. Memudahkan siapa saja berkunjung ke Komodo membuatnya menjadi murahan

“Ya itu tadi, tak ada bedanya dengan Ragunan,” tambah Achyar.

Lebih jauh menurut Achyar, kebijakan investasi tersebut pun akan membawa dampak sosial yang luas bagi para pelaku industri pariwisata.

“Mata pencaharian para pelaku wisata yang telah terbentuk selama ini di Labuan Bajo bisa terancam gulung tikar dan tentu menambah jumlah pengangguran. Bayangkan jika kapal Ferry tersebut dioperasikan, berapa banyak pengusaha kapal phinisi atau kapal wisata yang terancam hilang pekerjaannya jika investasi itu direalisasikan? Belum lagi para tour guide dan profesi lain yang terkait, kehadiran KMP Komodo tentu akan mengancam sumber pendapatan mereka,” tandasnya.

Jika menilik ke belakang, kata Achyar, kehadiran investasi pihak ASDP mulanya sebatas pada investasi hotel dan area komersil yang berpusat di pelabuhan ASDP yang kelak dinamakan Marina Labuan Bajo. Menurutnya, belakangan rencana investasi itu berkembang ke arah penyediaan jasa kapal Ferry bermuatan massal.

“Dampak lainnya adalah investasi tersebut akan mengancam keberadaan kapal Phinisi, kapal wisata tradisonal yang merupakan warisan budaya asli Indonesia. Kita sudah banyak kehilangan Bagang, jangan lagi ditambah dengan kehilangan Phinisi,” tukasnya. (AK-TB)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here